tentang bulan juga matahari

•December 11, 2009 • 2 Comments

kejadian malam itu, seperti kumpulan balon gas

terlepas dari seorang anak kecil yang tak tahu

apakah helium atau grafitasi yang sedang dilawannya

~

kejadian kau dan aku, tidak lebih seru dari episode matahari dan bulan

yang meraka tak pernah bertemu di satu gumpalan awan

~

dan kejadian seperti itu,

seperti aku yang selalu gagal membaca setiap tanda yang diberi semesta

untuk ku baca

photo-credit: http://weheartbooks.com/wordpress/wp-content/uploads/2008/07/scan0002.jpg

what is empathy, anyway?

•December 8, 2009 • Leave a Comment

bayangkan kamu berada di dalam sebuah band yang sedang naik daun. beberapa hit single rekaman sudah masuk ke charts national, dan sekumpulan fans sudah mulai berdatangan bergerombol. bayangkan kamu adalah seorang gitaris yang lumayan handal, tapi buruk dalam hal song-writting. bayangkan kmu bersuara emas, tetapi kmu cukup kesulitan bernyanyi di atas panggung karena lagu-lagu dari band-mu adalah milik 2 orang rekan band-mu. oh iya, bayangkan pula kamu adalah seorang yang pendiam.

sudah? oke..

lalu apa yang akan kamu lakukan? mungkin menunggu sambil terus-menerus berlatih menulis komposisi lagu di waktu luang. tapi kalau kamu seorang pemimpin yang brilliant, kamu pasti mengerti kondisi setiap anggotamu. melihat kondisi itu, vokalis utama dari bandmu lalu berinisiatif membuatkan lagu untuk kmu nyanyikan di atas panggung.

wow, what a nice person.

lagunya tidak terlalu penting lah. mungkin akan saya tulis liriknya di akhir tulisan ini. yang penting adalah lirik dari lagu buatan vokalismu itu.

kira-kira begini isi liriknya : oh well, saya ga peduli kamu adalah seorang penulis lagu yang buruk. saya juga ngga mau sama sekali nge-band sama orang lain di dunia ini, siapa pun itu, yang lebih pinter bikin lagu daripada kamu. kamu tau kenapa? karena saya sudah bahagia. karena saya senang hanya karena saya bisa bermain musik denganmu.

lovely isn’t it?

rasa hormatmu kepada vokalismu itu lalu bertambah besar, dan kamu merasa dia adalah orang yang paling lucu dan baik yang pernah kamu temui.

lagu yang kamu nyanyikan itu kemudian menjadi hits. orang-orang juga mulai menyanyikannya ketika band-mu perform. kamu juga karena kejadian itu, mulai pandai menulis lagu, dan rasa percaya dirimu terus meningkat.

waktu berlalu kawan, dan band-mu ini menjadi besar dan besar. walaupun 6 tahun kemudian kelompokmu ini mulai bertengkar dan bubar, lagu-lagu kalian berempat sudah menembus jajaran atas tangga-tangga lagu internasional dan menjadi sesuatu yang time-less

tujuh tahun setelah bubar, Continue reading ‘what is empathy, anyway?’

random thoughts

•December 2, 2009 • 4 Comments

seperti memori, juga menyerupai mimpi. imaji-imaji 16bit yang datang tak pernah berurutan.

mereka indah saat rusak.

itulah kenapa analog kembali datang dari masa lalu. itu pula kenapa teknologi digital malah sering digunakan untuk menyerupai analog.

gambar gambar

dan sebuah foto, mereka menyimpan kenangan justru ketika sudah usang

~~~

dan ketika merenungi sebuah memori

masa kecil adalah masa di mana kita bermain dan takjub atas sebuah apa,

tanpa ada kata-kata ”autis lo!” keluar dari mulut manusia dewasa

masa kecil adalah di mana kita mengerti letak keindahan dari sebuah air yang jatuh dan pecah di tanah

masa kecil adalah rajinnya kita berimajinasi dan sebuah tongkat kayu berubah jadi sebilah pedang

juga kertas kertas yang lalu kita beri sayap

juga malam hangat di balik selimut bergambar-gambar

~~~

ketika idul adha kemarin, saya terkesima bagaimana ponakan saya ini mengamati air yang menetes-netes. setelah beberapa menit dia menengadahkan tangannya dan berkata pelan “bashhah.. bashhah”. dan orang yang sudah tumbuh dewasa tidak akan mengerti di mana letak keindahan setetes air yang terus-menerus jatuh menetes.

sebuah mesin penenun hujan

•November 20, 2009 • 1 Comment

pernahkah kmu mendengar sebuah lagu, di pinggir jalan atau di dalam sebuah play-list teman, yang membuat kmu tiba-tiba terdiam dan memaksamu menyelesaikan lagu itu sampai selesai? atau sebuah lagu yang membuat kamu terpaksa megagumi penyanyinya karena dia seperti bernyanyi dan menangis untukmu?

berawal dari sebuah lauching album melancholic bicth kamis malam, seorang teman membawakan mp3 lagu ini ke laptop saya. si penyanyi memang tampil sebagai pembuka dalam acara lauching, dan iya, teman saya itu datang untuk sebuah Frau.

kenalkan Lani, atau Leilani Hermiasih Suyenaga kalau kmu menanyakan sebuah nama lengkap. dia adalah seorang mahasiswi antropologi 2008 FIB UGM. dia adalah seorang pemain piano. dia adalah pembicaraan hangat di scene musik jogja. dan yang paling penting, dia adalah seorang Frau.

kmu bisa mengunjungi dia di sini:
http://www.myspace.com/ffrau
http://www.facebook.com/pages/frau
http://frau-lyrics.blogspot.com/

ough, monyet bener. sebenarnya saya benci harus mengorek-korek kembali kekalahan dan kebodohan saya menaklukan hati wanita kemarin itu. tapi lagu yang sedang saya bahas di sini benar-benar meracuni pikiran saya seharian penuh! seperti saya berkata pada diri saya sendiri “Lagu ini harusnya saya yang membuatnya.. Kata-kata ini, harusnya kata-kata saya”

dan ya seperti yang saya bahas pada bagian awal, lagu ini memaksa saya menyelesaikan dan memutarnya kembali, terus-menerus dan berulang-ulang dan terus-menerus seperti orang bodoh. yay!

P.S: oh iya, kalau tidak salah Frau juga bermain dalam acara kick andy nanti malam bersama WSATCC dan beberapa musisi independent lain. hemm.. sekarang kmu bisa melihat dan membuktikan sendiri betapa mempesona musik yang dibawakannya.

oke, kmu bisa mendengarkan sample lagunya

di sini.

atau bisa juga men-download lagunya secara gratis via yesnowave demo

di sini

cerious!

Mesin Penenun Hujan

Merakit mesin penenun hujan
Hingga terjalin, terbentuk awan
Semua tentang kebalikan
Terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu

Keputusan yang tak terputuskan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Kau sakiti aku, kau gerami aku,
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Oleh-oleh dari semarang.. :)

•November 11, 2009 • 2 Comments

DSC_0828



DSC_0830


DSC_0754



 




DSC_0756





DSC_0737

.

 

 

 

 

 

 

 

 

terduduk tenang, menghadap remang.

•November 4, 2009 • 7 Comments

kejadian ini sebenarnya terjadi sekitar sekitar seminggu yang lalu. lewat jam 12 sembari menahan kantuk, dengan motivasi yang kurang jelas, saya mengambil buku corat-coret saya dan menuliskan kata-kata yang tidak kalah absurd-nya. daaann,pas ngantuknya udah bener2 dateng, saya tutup tu buku dan langsung tidur.

sebenernya ngga ada yang spesial dari kejadian itu sih. tapi pas kemarin ini saya buka2 lagi buku corat-coret itu, dan saya baca lagi kata-kata yang muncul dari tulisan ngantuk ga jelas itu, saya cuma bisa bilang dalam hati. “anjrit! tulisan apaan nih?? keren bener! ini beneran saya yang nulis??”

haha. agak berlebihan sih, sebenernya tulisannya juga lebih ke arah mellow2 sampah jatohnya.  tapi saya beneran takjub sama tulisan ngantuk saya itu. pemilihan katanya, juga emosinya, ajaib lah pokoknya. pengaruh emosi berbunga-bunga naksir cewe pas seminggu yang lalu mungkin.

ok, ini dia tulisannya..

untitled / tulisan ngantuk

Aku akan menjemputmu di sela hiruk-pikuk waktu yang ku paksa untuk menunggu.

Akan ku pastikan bayanganku ada di otak kananmu dan kata-kataku yang mengesankan bagian kirimu. Aku akan mengantarmu hingga jembatan itu sampai kau tahu. Mereka tak merekam memorimu,  mereka tak membakar ulu hati mu.

Catatan-catatan kelahiran, juga rancangan-rancangan kematian lalu ku serahkan di tanganmu.

Gumpalan ingatan akan berdesir,

terhanyut lemah serupa pasir.

kita berdua lalu terduduk tenang menghadap remang.

P.S : hahahay asoy kan? kalo mau dicacatin silahkan. saya aja sampe ketawa2 sendiri bacanya.

[repost] in fact, silent is the most expressive way to talk

•October 31, 2009 • Leave a Comment

sebenarnya tidak baik me-repost tulisan lama seperti ini. tapi ya sudahlah. hehe. enjoy!

 

co : “…”
ce : “ada masalah ya.?”
co : “eh.?”
ce : “kmu akhir-akhir ini ngga pernah ngomong sama saya.”
co : “terus.?”
ce : “…”
co : “harus ya.?”
ce : “…”
co : “oke, ayo ngobrol. kamu mau ngobrol tentang apa.?”
ce : “kamu biasanya ngga kasar kayak gini.”
co : “errrrr. oke. maaf.”

postingan ga penting kalo lagi sibuk ga usah dibaca

•October 19, 2009 • 1 Comment

hmm.. mulai dari mana ya? oh oke. soal ending draft novel yg kemaren, entaran ya. itu soalnya setelah saya baca lagi cheesy banget. haha. padahal itu dulu aslinya tugas kuliah, tapi endingnya memalukan. dan saya juga lagi musim2 ujian tengah semester, jadi… ngerevisi endingnya besok2 yah.

hmm.. apa lagi ya? ohh, buat Galuh, tengs ya buat yg waktu itu. hehe. coba lo di jgj luh, udah gw traktir deh. ciee, yg abis dapet poket analog. ayo2 dipake lah, trus foto2nya di uplot.  nih gw kasih liat bentuknya kamera loakan  kemaren gw ceritain.

DSC_0456

hmmm. biasa aja sih, ga begitu yang gimana-gimana juga. cuman namanya juga dapet di pasar loak  dan harganya kepegang 17.500 rupiah, jadi bikin kamera ini kayak bongkah emas 24 karat yg saya temuin di antara tumpukan pasir2 kerikil2 di sungai deket hutan. wkwk. *ngomong apa sih saya ini?

ya udah deh. sebenernya saya juga ngga ada hal yg pengen diomongin. yaa.. cuma pengen nge-post aja. ssekarang saya juga sebenernya lagi ngerjain tugas take home mid semester yang harus dikumpul besok siang. eh, nanti ding, sekarang aja udah senen.

oke2, wish me luck guys!

funny little frog

•October 16, 2009 • Leave a Comment

Honey, loving you is the greatest thing
I get to be myself and I get to sing
I get to play at being irresponsible
I come home late at night and I love your soul
I never forget you in my prayers
I never have a bad thing to report

You’re my picture on the wall
You’re my vision in the hall
You’re the one I’m talking to
When I get in from my work
You are my girl, and you don’t even know it
I am living out the life of a poet
I am the jester in the ancient court
You’re the funny little frog in my throat

My eye sight’s fading, my hearing’s dim
I can’t get insured for the state I’m in
I’m a danger to myself I’ve been starting fights
At the party at the club on a Saturday night
But I don’t get disapproving from my girl
She gets the all highlights wrapped in pearls

You’re my picture on the wall
You’re my vision in the hall
You’re the one I’m talking to
When I get in from my work
You are my girl, and you don’t even know it
I am living out the life of a poet
I am the jester in the ancient court
You’re the funny little frog in my throat

I had a conversation with you at night
It’s a little one sided but that’s all right
I tell you in the kitchen about my day
You sit on the bed in the dark, changing places
With the ghost that was there before you came
You’ve come to save my life again

I don’t dare to touch your hand
I don’t dare to think of you
In a physical way
And I don’t know how you smell
You are the cover of my magazine
You’re my fashion tip, a living museum
I’d pay to visit you on rainy Sundays
I’ll maybe tell you all about it someday

download here

[draft novel 1] Chapter IV : ‘Petir’

•October 9, 2009 • 4 Comments

Agustus 2005

Ibu,

Bagaimana kabar ibu sekarang? Aku harap baik-baik saja. Maaf telah membuat ibu khawatir. Anakmu ini sekarang sedang berada di luar kota. Aku juga tak tahu, tapi aku ingin menetap di kota lain. Entah di mana. Jika aku sudah menetap nanti, akan aku beritahu alamat dan nomor telepon agar ibu bisa menelponku seperti biasa. Jangan menghubungi handphone-ku Bu. Handphone itu sudah ku jual untuk tambahan uang untuk ku pergi. Aku sudah bilang tidak akan merepotkan, bukan?

Bu, aku sudah tak tahan dengan kondisi rumah. Tapi lebih baik tidak usah kita bahas di sini ya? Aku hanya ingin memberi tahu aku baik-baik saja. Lebih baik dari hari kemarin malah.

Bu, Bagaimana Jogja? Bagaimana keadaan rumah? Apa adik baik-baik saja? Aku harap begitu. Dia anak yang cerdas. Tapi ibu pasti lebih tahu itu dari aku, bukan? Bagaiman bapak? Apa bapak masih sering berkunjung ke rumah? Mungkin tidak. Aku rasa dia pasti lebih sibuk dengan istrinya yang baru.

Bu, sungguh semua ini bukan karena ibu yang kurang sempurna atau apa. Ibu di mataku adalah tanpa cela. Tapi memang bapak yang tak pantas bersama ibu. Agama harusnya tidak menjadi pembenaran atas itu semua ya kan bu? Sendirilah jika ibu mau, dan aku yakin ibu bisa. Sangat bisa. Atau tidak, carilah pengganti bapak sesuka ibu. Tentu ibu punya kriteria sendiri. Tentu ibu juga ingin punya keluarga lengkap seperti orang lain. Entahlah. Mungkin aku seharusnya tidak menasihati ibu atas apa yang akan ibu lakukan. Terserah ibu saja. Bukankah adat Jawa tidak memungkinkan seorang anak mengajari orang tua? Setauku adat Jawa tentang komunikasi anak dan orang tua berlangsung searah. Orang tua di atas, anak di bawah, dan komunikasi selalu berlangsung dari atas ke bawah. Bukan begitu bu? Maafkan kelancanganku. Memang aku yang Continue reading ‘[draft novel 1] Chapter IV : ‘Petir’’